Jika Anda mendapati diri Anda berkelakukan agak mirip dengan karakter Ikal setelah membaca novel Andrea Hirata berjudul Laskar Pelangi atau karakter Elektra Wijaya setelah selesai membaca novel Petir karya Dewi Lestari, hal itu wajar berdasarkan hasil sebuah penelitian baru.
Para pembaca yang memihak pada karakter-karakter fiktif akan cenderung
mengadopsi perilaku karakter fikitf tersebut tanpa disadarinya. Hal ini
tentu memberikan sebuah arti yang sangat baru dari frase "menenggelamkan
diri" dalam sebuah buku yang bagus.
Para peneliti di Ohio State University berpendapat para pencinta buku
yang telah menunjukkan ciri-ciri dirinya mengadopsi perasaan, pikiran,
keyakinan, dan reaksi internal dari karakter-karakter fiktif dapat masuk
dalam sebuah fenomena yang disebut "menyerap pengalaman".
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology,
"Ketika Anda ‘tenggelam' ke dalam dunia karakter fiktif saat membaca
sebuah cerita, Anda mungkin akan berakhir dengan mengubah perilaku dan
pikiran Anda sendiri untuk menyesuaikan dengan perilaku dan pikiran si
karakter."
Geoff Kaufman, seorang peneliti post-doktoral di Tiltfactor Laboratory
di Dartmouth College di Hanover, New Hamphire, dan penulis pendampingnya
Lisa Libby, seorang asisten profesor di jurusan psikologi, Ohio State
University, mengadakan serangkaian enam tes berbeda yang melibatkan
sekitar 500 sukarelawan.
Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa cerita yang bersudut pandang
orang pertama bisa bersifat transformatif untuk sementara, sehingga
mengubah cara pandang pembaca terhadap dunia, diri mereka sendiri, dan
kelompok sosial lainnya.
Saturday, 9 June 2012
Buku Bacaan adalah Cerminan Diri
12:30
Inspirasi





