Thursday, 22 November 2012

Tidak Hanya Candi, Sunrise di Borobudur Juga Menakjubkan

http://images.detik.com/customthumb/2012/06/24/1025/img_20120624160856_4fe6d928625d4.jpg?w=600



Candi Borobudur merupakan candi umat Buddha terbesar di dunia. Bangunannya yang luas, megah, dan menjulang tinggi, mampu membuat kagum setiap orang. Tak hanya itu, sunrise di Borobudur ternyata tidak kalah menakjubkannya.

Hal ini juga menjadi sesuatu yang baru bagi Anda. Tentu, ada kepuasan dan rasa tersendiri saat menikmati matahari yang terbit di candi ini. Cahaya keemasan berbalut dengan kemegahan candi yang agung. Sempurna!

Memang, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk menikmati sunrise di Candi Borobudur. Untuk melihat sunrise, Anda bisa mendaftar di Hotel Manohara seharga Rp 300.000. Dengan biaya tersebut, Anda sudah mendapat pemandu, senter, dan beberapa cemilan untuk menikmati sunrise. Perjalanan menuju Candi Borobudur dapat dilakukan mulai pukul 03.00 WIB. Biasanya, pemandangan sunrise akan muncul pada pukul 05.00 WIB pagi.


http://images.detik.com/customthumb/2012/06/24/1025/img_20120624160910_4fe6d936af0c6.jpg?w=600


Sunrise di Borobudur sangat sempurna. Dari atas candi, Anda dapat melihat sang mentari muncul dari tidurnya dan menerangi hampir setiap sudut daerah di sekitar candi. Ditambah dengan suasana candi di pagi hari, yang dingin dan berembun.

Siapkan kamera terbaik Anda karena sunrisenya begitu menggoda. Selain sunrise, patung-patung di Candi Borobudur juga dapat Anda dapat jadikan objek foto. Anda akan dapat melihat pemandangan cantik saat patung-patung candi mulai disinari oleh mentari pagi.



http://images.detik.com/customthumb/2012/06/24/1025/img_20120624160932_4fe6d94cd1642.jpg?w=600


Jangan lupa siapkan stamina Anda, karena dinginnya udara pagi akan menusuk tulang. Menikmati secangkir kopi sambil melihat sang mentari bangun dari tidurnya, akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Biaya yang Anda keluarkan, tidak sebanding dengan keindahan sunrise yang menawan. Selamat menikmati sunrise di Candi Borobudur dan mengaggumi kebesaran Tuhan.


http://images.detik.com/customthumb/2012/06/24/1025/img_20120624160953_4fe6d961262b7.jpg?w=600



sumber :http://travel.detik.com/read/2012/06/24/161014/1949458/1025/tidak-hanya-candi-sunrise-di-borobudur-juga-menakjubkan

Thursday, 15 November 2012

Tidak Hanya Candi, Sunrise di Borobudur Juga Menakjubkan

http://images.detik.com/customthumb/2012/06/24/1025/img_20120624160856_4fe6d928625d4.jpg?w=600



Candi Borobudur merupakan candi umat Buddha terbesar di dunia. Bangunannya yang luas, megah, dan menjulang tinggi, mampu membuat kagum setiap orang. Tak hanya itu, sunrise di Borobudur ternyata tidak kalah menakjubkannya.

Hal ini juga menjadi sesuatu yang baru bagi Anda. Tentu, ada kepuasan dan rasa tersendiri saat menikmati matahari yang terbit di candi ini. Cahaya keemasan berbalut dengan kemegahan candi yang agung. Sempurna!

Memang, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk menikmati sunrise di Candi Borobudur. Untuk melihat sunrise, Anda bisa mendaftar di Hotel Manohara seharga Rp 300.000. Dengan biaya tersebut, Anda sudah mendapat pemandu, senter, dan beberapa cemilan untuk menikmati sunrise. Perjalanan menuju Candi Borobudur dapat dilakukan mulai pukul 03.00 WIB. Biasanya, pemandangan sunrise akan muncul pada pukul 05.00 WIB pagi.


http://images.detik.com/customthumb/2012/06/24/1025/img_20120624160910_4fe6d936af0c6.jpg?w=600


Sunrise di Borobudur sangat sempurna. Dari atas candi, Anda dapat melihat sang mentari muncul dari tidurnya dan menerangi hampir setiap sudut daerah di sekitar candi. Ditambah dengan suasana candi di pagi hari, yang dingin dan berembun.

Siapkan kamera terbaik Anda karena sunrisenya begitu menggoda. Selain sunrise, patung-patung di Candi Borobudur juga dapat Anda dapat jadikan objek foto. Anda akan dapat melihat pemandangan cantik saat patung-patung candi mulai disinari oleh mentari pagi.



http://images.detik.com/customthumb/2012/06/24/1025/img_20120624160932_4fe6d94cd1642.jpg?w=600


Jangan lupa siapkan stamina Anda, karena dinginnya udara pagi akan menusuk tulang. Menikmati secangkir kopi sambil melihat sang mentari bangun dari tidurnya, akan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.

Biaya yang Anda keluarkan, tidak sebanding dengan keindahan sunrise yang menawan. Selamat menikmati sunrise di Candi Borobudur dan mengaggumi kebesaran Tuhan.


http://images.detik.com/customthumb/2012/06/24/1025/img_20120624160953_4fe6d961262b7.jpg?w=600



sumber :http://travel.detik.com/read/2012/06/24/161014/1949458/1025/tidak-hanya-candi-sunrise-di-borobudur-juga-menakjubkan

Thursday, 27 September 2012

Kisah di Balik Nama Candi

Mengapa warga Sleman, Yogya lebih mengenal nama Candi Jonggrang dibanding nama aslinya, Candi Prambanan? Dan, konon Candi Borobudur awalnya adalah biara? Ternyata banyak cerita menarik di balik nama-nama candi. Beberapa diantaranya sebagai berikut.

1. Candi Prambanan


Berbicara soal Candi Prambanan berarti harus memahami legenda Bandung Bondowoso. Ia adalah orang sakti yang ingin mengawini Puteri Loro Jonggrang, anak Prabu Ratuboko.

Loro Jonggrang tidak mempunyai hati terhadap Raden Bandung Bondowoso. Sebab ayahnya terbunuh di tangan sang Raden. Karena itulah ia mengajukan syarat, bersedia menikah asal Bandung Bondowoso membuat sebuah istana yang berisi seribu arca dalam waktu semalam saja. Konon, Raden Bandung meminta bantuan pasukan jin untuk menyelesaikan tugasnya

Setelah mendengar laporan istana hampir selesai, Puteri Loro Jonggrang memerintahkan para gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang pertanda pagi sudah tiba, dan ayampun berkokok bergantian.



Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang, para jin berhenti membuat candi. Mereka melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak bisa meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba.

Tetapi menurut firasat Raden Bandung, pagi belum tiba. Dipanggillah Putri Loro Jonggrang dan disuruh menghitung candi. Ternyata jumlahnya baru 999 candi, jadi yang belum jadi tinggal satu candi lagi. Sehingga Putri Loro Jonggrak tidak mau dipersunting oleh Raden Bandung.

Karena merasa ditipu dan dipermainkan, Raden Bandung murka dan mengutuk Putri Loro Jonggrang, “Hai Loro Jonggrang, candi kurang satu dan agar genap seribu, engkaulah orangnya”. Aneh bin ajaib, Putri Loro Jonggrang berubah wujud menjadi arca patung batu.



Legenda ini sangat populer, sehingga penduduk setempat lebih mengenal nama Loro Jonggrang daripada nama Prambanan. Jangan heran, kondektur bus yang menuju tempat wisata ini lebih sering berteriak "Jonggrang...Jonggrang," dan bukan, "Prambanan."

Padahal, nama Candi Prambanan diberikan karena letaknya ada di Desa Prambanan. Lagipula, arca Loro Jonggrang yang ada di candi tersebut sebenarnya menggambarkan Dewi Durga, istri Dewa Siwa.

2. Candi Sari
Tak jauh dari Candi Prambanan, tepatnya di jalan raya Yogyakarta - Solo ada Candi Sari. Mengapa diberi nama demikian? Dulu, saat pertama kali ditemukan, banyak orang terkagum-kagum dengan batu-batu berukir yang jadi bagian dari candi ini.



Setelah pemugaran selesai, mereka mengibaratkannya dengan kemolekan seorang gadis. Jadinya, sebagai penghormatan pada candi tersebut, diberilah nama Candi Sari. Dalam bahasa Jawa artinya lebih-kurang: Molek.

3. Candi Tikus


Candi Tikus yang berada di kompleks Trowulan, Jawa Timur diberi nama demikian karena pada awal penemuannya, di sela-sela batu candi yang masih berantakan banyak dijumpai sarang tikus.

4. Candi Asu Sengi
Letak Candi Asu Sengi tidak jauh dari lokasi tempat wisata Candi Gedong Songo yang terletak di dusun Darum desa Candi, Magelang.


Nama “Asu” berasal dari bahasa jawa yang berarti “Anjing”. Nah, terdapat kekeliruan dengan nama candi ini. Saat awal ditemukan, situs candi ini belum diberi nama. Namun, di dekat candi ada sebuah arca berbentuk hewan.

Nah, penduduk sekitar menganggap arca itu berwujud anjing, karena itulah diberi nama Candi Asu. Sesungguhnya, arca yang telah hilang dicuri orang tersebut adalah ujud lembu suci, atau arca Nandiswara - atau Nandi. Lembu ini adalah kendaraan Dewa Siwa dalam mitologi Hindu.

5. Candi Wurung




Di daerah Magelang ada juga Candi Wurung. Pertama kali ditemukan, masyarakat sekitar menafsirkan bahwa candi itu belum "urung" (bahasa Jawa, artinya "rampung/selesai"). Memang, situs yang satu ini berbentuk gundukan tanah yang berada di tengah sawah. Hanya terlihat onggokan kecil tertutup rumput, seolah candi yang belum selesai dibangun.

6. Candi Borobudur
Nama Candi Borobudur masih terus diperdebatkan hingga kini. Menurut penduduk setempat, Borobudur bermakna “arca di Desa Budur”. Konon, dulu setiap hari penduduk selalu melihat banyak boro (= arca) di Desa Budur.



Pendapat kedua mengatakan, nama Borobudur berasal dari pohon budur (pohon bodhi atau pohon kehidupan) yang pernah tumbuh subur di sana.

Sementara dari penelitian ilmiah, J.L. Moens, istilah budur artinya kota Budha. Karena dalam kitab kuno Nagarakretagama penyebutan budur sudah ada.

Lain lagi menurut Poerbatjaraka, ahli epigraf Indonesia, nama Borobudur berasal dari kata biara (tempat suci) dan bidur (tempat tinggi), yang kemudian “diplesetkan” menjadi borobudur.

***
Jadi, sebagian besar candi-candi yang ada di Indonesia hanya sedikit yang dinamakan sesuai dengan apa yang diesebutkan dalam naskah kuno. Artinya, sesuai nama asli. Seperti misalnya saja Candi Jawi, sesuai dengan nama bangunan suci Jajawa. Atau kata "Jajaghu" kini untuk nama Candi Jago - terjadi penyederhanaan nama. Dua nama candi itu disebut dalam kitab Nagarakretagama dari abad ke-14.

Kebanyakan pemberian nama candi sesuai wilayahnya, atau dari masyarakat sendiri.

sumber:http://www.apakabardunia.com/2012/08/kisah-di-balik-nama-candi.html

Sunday, 2 September 2012

Kisah di Balik Nama Candi

Mengapa warga Sleman, Yogya lebih mengenal nama Candi Jonggrang dibanding nama aslinya, Candi Prambanan? Dan, konon Candi Borobudur awalnya adalah biara? Ternyata banyak cerita menarik di balik nama-nama candi. Beberapa diantaranya sebagai berikut.

1. Candi Prambanan

Berbicara soal Candi Prambanan berarti harus memahami legenda Bandung Bondowoso. Ia adalah orang sakti yang ingin mengawini Puteri Loro Jonggrang, anak Prabu Ratuboko.

Loro Jonggrang tidak mempunyai hati terhadap Raden Bandung Bondowoso. Sebab ayahnya terbunuh di tangan sang Raden. Karena itulah ia mengajukan syarat, bersedia menikah asal Bandung Bondowoso membuat sebuah istana yang berisi seribu arca dalam waktu semalam saja. Konon, Raden Bandung meminta bantuan pasukan jin untuk menyelesaikan tugasnya

Setelah mendengar laporan istana hampir selesai, Puteri Loro Jonggrang memerintahkan para gadis di sekitar Prambanan untuk menumbuk padi dan membakar jerami supaya kelihatan terang pertanda pagi sudah tiba, dan ayampun berkokok bergantian.

Mendengar ayam berkokok dan orang menumbuk padi serta di timur kelihatan terang, para jin berhenti membuat candi. Mereka melaporkan pada Raden Bandung Bondowoso bahwa jin tidak bisa meneruskan membuat candi yang kurang satu karena pagi sudah tiba.

Tetapi menurut firasat Raden Bandung, pagi belum tiba. Dipanggillah Putri Loro Jonggrang dan disuruh menghitung candi. Ternyata jumlahnya baru 999 candi, jadi yang belum jadi tinggal satu candi lagi. Sehingga Putri Loro Jonggrak tidak mau dipersunting oleh Raden Bandung.

Karena merasa ditipu dan dipermainkan, Raden Bandung murka dan mengutuk Putri Loro Jonggrang, “Hai Loro Jonggrang, candi kurang satu dan agar genap seribu, engkaulah orangnya”. Aneh bin ajaib, Putri Loro Jonggrang berubah wujud menjadi arca patung batu.


Legenda ini sangat populer, sehingga penduduk setempat lebih mengenal nama Loro Jonggrang daripada nama Prambanan. Jangan heran, kondektur bus yang menuju tempat wisata ini lebih sering berteriak "Jonggrang...Jonggrang," dan bukan, "Prambanan."

Padahal, nama Candi Prambanan diberikan karena letaknya ada di Desa Prambanan. Lagipula, arca Loro Jonggrang yang ada di candi tersebut sebenarnya menggambarkan Dewi Durga, istri Dewa Siwa.

2. Candi Sari
Tak jauh dari Candi Prambanan, tepatnya di jalan raya Yogyakarta - Solo ada Candi Sari. Mengapa diberi nama demikian? Dulu, saat pertama kali ditemukan, banyak orang terkagum-kagum dengan batu-batu berukir yang jadi bagian dari candi ini.

Setelah pemugaran selesai, mereka mengibaratkannya dengan kemolekan seorang gadis. Jadinya, sebagai penghormatan pada candi tersebut, diberilah nama Candi Sari. Dalam bahasa Jawa artinya lebih-kurang: Molek.

3. Candi Tikus

Candi Tikus yang berada di kompleks Trowulan, Jawa Timur diberi nama demikian karena pada awal penemuannya, di sela-sela batu candi yang masih berantakan banyak dijumpai sarang tikus.

4. Candi Asu Sengi
Letak Candi Asu Sengi tidak jauh dari lokasi tempat wisata Candi Gedong Songo yang terletak di dusun Darum desa Candi, Magelang.


Nama “Asu” berasal dari bahasa jawa yang berarti “Anjing”. Nah, terdapat kekeliruan dengan nama candi ini.  Saat awal ditemukan, situs candi ini belum diberi nama. Namun, di dekat candi ada sebuah arca berbentuk hewan.

Nah, penduduk sekitar menganggap arca itu berwujud anjing, karena itulah diberi nama Candi Asu. Sesungguhnya, arca yang telah hilang dicuri orang tersebut adalah ujud lembu suci, atau arca Nandiswara - atau Nandi. Lembu ini adalah kendaraan Dewa Siwa dalam mitologi Hindu.

5. Candi Wurung
Gundukan tempat Candu Wurung berada

Di daerah Magelang ada juga Candi Wurung.  Pertama kali ditemukan, masyarakat sekitar menafsirkan bahwa candi itu belum "urung" (bahasa Jawa, artinya "rampung/selesai"). Memang, situs yang satu ini berbentuk gundukan tanah yang berada di tengah sawah. Hanya terlihat onggokan kecil tertutup rumput, seolah candi yang belum selesai dibangun.

6. Candi Borobudur
Nama Candi Borobudur masih terus diperdebatkan hingga kini. Menurut penduduk setempat, Borobudur  bermakna “arca di Desa Budur”. Konon, dulu setiap hari penduduk selalu melihat banyak boro (= arca) di Desa Budur.

Pendapat kedua mengatakan, nama Borobudur berasal dari pohon budur (pohon bodhi atau pohon kehidupan) yang pernah tumbuh subur di sana.

Sementara dari penelitian ilmiah, J.L. Moens,  istilah budur artinya kota Budha. Karena dalam kitab kuno Nagarakretagama penyebutan budur sudah ada.

Lain lagi menurut Poerbatjaraka, ahli epigraf Indonesia, nama Borobudur berasal dari kata biara (tempat suci) dan bidur (tempat tinggi), yang kemudian “diplesetkan” menjadi borobudur.

***

Jadi, sebagian besar candi-candi yang ada di Indonesia hanya sedikit yang dinamakan sesuai dengan apa yang diesebutkan dalam naskah kuno. Artinya, sesuai nama asli. Seperti misalnya saja Candi Jawi, sesuai dengan nama bangunan suci Jajawa. Atau kata "Jajaghu" kini untuk nama Candi Jago - terjadi penyederhanaan nama. Dua nama candi itu disebut dalam kitab Nagarakretagama dari abad ke-14.

Kebanyakan pemberian nama candi sesuai wilayahnya, atau dari masyarakat sendiri.