Friday, 27 September 2013

Waw an Namus, Keunikan Oasis di Tengah Kawah Gunung Berapi

Oasis di tengah gurun pasir sudah biasa, tapi kalau di tengah kawah gunung, ini baru luar biasa. Di Libya, ada Waw an Namus, oasis hijau nan cantik di tengah kawah bekas letusan gunung berapi.

Oasis seringkali hadir di tengah padang pasir seperti surga. Danau kebiruan yang ditumbuhi dengan pepohonan hijau menjadi pelepas lelah dan dahaga para traveler yang sedang mengarungi padang pasir.

http://fotosmundo.net/fotos/paisajes/waw-an-namus-libya-1.jpg

Seperti dikuti dari Amusing Planet, ternyata di Libya ada juga oasis cantik di tengah kawah gunung berapi yang sudah meletus. Namanya Waw an Namus, letaknya berada di tengah Waw Al Kabir dan Al Kufrah.

Lebar kawasan hijau ini sekitar 4 km dengan dikelilingi 10-20 km padang debu hitam bekas letusan yang sudah terjadi ratusan tahun lalu.

Di sekitar kawah ini, ada 3 danau air asin yang dikelilingi dengan pepohonan nan hijau. Sungguh cantik dipandang mata. Nama Waw an Namus sendiri berarti "Oasis Nyamuk", karena banyak sekali nyamuk di dekat danau.

Oasis ini mulai dikenal dunia setelah dikisahkan oleh Karl Moritz von Beurmann (1862) dan Gerard Rohlfs (1881). Setelah itu, makin banyak orang yang kebetulan melewati, atau sengaja datang ke sana. Jika kondisi politik di Libya sudah kembali normal, pasti banyak wisatawan yang datang ke oasis ini.

Selain hanya berkunjung dengan menggunakan unta, atau kendaraan bermotor, ada juga turis yang bermalam di sana. Jika ingin bermalam, Anda harus membawa anti nyamuk dan pakaian tidur yang tertutup karena di sana terkenal sekali sebagai kerajaan nyamuk.















Sumber :
travel.detik.com

Sunday, 28 October 2012

Gunung Ini Mirip Albert Einstein

Apa yang bisa Anda lihat dari foto gunung ini? Setuju atau tidak, bentuk gunung ini mirip wajah ilmuwan terkenal Albert Einstein.


Seperti diwartakan The Sun, foto ini diambil oleh seorang pendaki, di salah satu puncak gunung di Pegunungan Alpen, Austria.

Ilmuwan kelahiran Jerman pemenang Hadiah Nobel yang mengembangkan teori relativitas, pernah mengatakan bahwa karyanya seperti "mendaki gunung".

Wednesday, 26 September 2012

Mungkinkah Ada Piramida di Gunung Padang?

Keberadaan piramida di Gunung Padang terus menuai debat antar ahli. Benarkah jaman nenek moyang, Indonesia pernah punya piramid? Perlu penelitian dan kajian ilmiah lebih lanjut untuk membuktikannya. Bila terbukti sah, tentu menjadi temuan arkeolog terbesar yang menggegerkan dunia. 

Sementara ini, berikut kami lampirkan hasil penelitian terakhir seperti dimuat dalam Tempo. 

Sketsa imajiner piramida Gunung Padang

Kabarnya, misteri piramida di Gunung Padang mulai terkuak. Peneliti menemukan bukti bahwa gunung berbentuk piramida itu buatan manusia, bukan bentukan alam.

Pencitraan radar menunjukkan gunung itu terdiri atas ruang bebatuan yang terstruktur, semacam kawasan pemujaan.

Usia "piramida" Gunung Padang diperkirakan 4.700-10.900 tahun sebelum Masehi--bandingkan dengan piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500 SM. Namun pembuktian belum maksimal, dan ini menyebabkan pakar geologi masih ragu terhadap "piramida" itu. Terlalu dini untuk diumumkan.

Gunung Padang jadi buah bibir setelah Tim Katastropik Purba meneliti patahan gempa Cimandiri, sekitar empat kilometer ke arah utara dari situs tersebut. Tim ini bentukan Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam Andi Arief.

Kontroversi merebak setelah Andi merilis ada sejenis piramida di bawah Gunung Padang pada awal tahun lalu. "Apa pun nama dan bentuknya, yang jelas di bawah itu ada ruang-ruang," kata Andi. "Selintas tak seperti gunung, seperti manmade."


Kecurigaannya berawal dari bentuk Gunung Padang yang hampir segitiga sama kaki jika dilihat dari utara. Sebelumnya, Tim juga menemukan bentuk serupa di Gunung Sadahurip di Garut dan Bukit Dago Pakar di Bandung saat meneliti patahan Lembang.

Andi Arief mengatakan pekerjaan timnya di Gunung Padang sudah hampir kelar. Untuk urusan penggalian, dia angkat tangan karena membutuhkan biaya besar. "Itu tugas Arkenas," katanya.

Sunday, 17 June 2012

Gunung Datar Terbesar di Dunia

Gunung Roraima mulai terkenal pada tahun 1912 ketika Sir Arthur Conan Doyle-menulis novel fiksi yang berjudul The Lost World. dia melakuan pendakian ke gunung Roraima-untuk melakukan eksplorasi dalam riset pencarian spesies tanaman prasejarah dan dinosaurus yang diyakini hidup terisolasi dan tidak berubah selama jutaan tahun di puncak gunung.

http://angkatigabelas.blogspot.com/
Conan-Doyle diilhami oleh ahli botani Inggris Everard Im Thurn yang pada 18 Desember 1884 dengan Harry Perkins, mereka merupakan orang pertama yang mencapai puncak Gunung Roraima. Im Thurn dan Perkins bukan orang Eropa pertama yang melihat Gunung Roraima, orang pertama eropa yang melihatnya adalah seorang penjelajah Jerman Robert Schomburgk yang seorang ilmuwan yang penjelajah daerah Britains Royal Society pada 1838.

http://angkatigabelas.blogspot.com/
Menyampaikan ceramah dalam ekspedisi nya yang ketika itu dihadiri Conan-Doyle. yang kemudian mengilhaminya untuk melakukan penjelajahan ke gunung roraima. Im Thurn dan Perkins mendaki Gunung Roraima dari tenggara dengan apa yang sekarang disebut Im Thurn rute, satu-satunya cara termudah untuk mencapai puncak. dalam ekspedisinya Im Thurn harus berjuang menempuh jarak ratusan kilometer juga melewati sungai dan hutan-hutan liar beserta binatang buas yang berbahaya.
Setelah Im Thurn dan Perkins, banyak ekspedisi ilmiah Inggris yang datang untuk mengumpulkan dan melakukan penelitian mengenai flora dan fauna aneh yang ada di gunung roraima dan menghasilkan banyak spesies baru yang ada di sana dan gunung ini sudah ditetapkan dalam daftar situs warisan dunia.