Sunday, 6 October 2013

Klaim Peneliti, Bigfoot Sebagai Makhluk "Setengah Manusia"

type='html'>Kaum yang meyakini adanya bigfoot mengklaim telah menemukan bukti ilmiah dari makhluk tersebut.

Studi DNA selama lima tahun dalam Sasquatch Genome Project bersama rangkaian foto dan video menunjukkan bahwa bigfoot yang jejaknya pernah diklaim ditemukan di Sumatera memang benar-benar ada.


Anggota tim peneliti mengungkap hasil penelitian terbaru dalam pertemuan di Dallas. Mereka mengatakan, bigfoot adalah kerabat manusia yang eksis 15.000 tahun lalu.

"Kami ingin orang memahami bahwa ini serius. Orang telah memilih untuk tidak memercayainya. Mereka tidak dapat menyadari bahwa makhluk ini memang benar-benar ada," kata Melba Ketchum, pakar genetika yang memimpin riset, seperti dikutip IBTimes.

Studi selama lima tahun itu dibiayai oleh seorang pebisnis bernama Adrian Erickson. Biaya yang dihabiskan 500.000 dollar AS. Ketchum dan timnya berhasil mengurai genom sampel yang diyakini bigfoot dan mengungkap bahwa makhluk itu adalah hibrid manusia.

"Studi kami telah mengurai 20 genom mitokondria secara keseluruhan dan menggunakan teknologi penguraian lanjut untuk mendapatkan 3 genom inti dari sampel yang diyakini bigfoot," demikian pernyataan peneliti.

"Penguraian genom menunjukkan bahwa DNA mitokondria Sasquatch identik dengan Homo sapiens. Namun DNA inti Sasquatch berbeda, terkait manusia Homo sapiens dan primata lain," lanjut peneliti dalam rilisnya.

Tim peneliti menggunakan 111 spesimen yang didapatkan dari rambut, darah, kulit, dan jaringan lain dari sampel yang diduga bigfoot.

Ketchum adalah seorang profesor veteriner. Ia awalnya skeptis tentang bigfoot. Namun, dalam penelitian, ia menjumpai fakta bahwa bigfoot memang berbeda.

"Makhluk ini tak mengikuti aturan umum. Sangat berbeda. Kami berpikir dia hibrid manusia. Itu teori kita," katanya.

Menurut Ketchum, pemerintah harus mengakui bigfoot seperti sekelompok masyarakat adat, melindunginya dari pihak-pihak yang mengancam, menjebak atau ingin membunuhnya.


Sumber :
sains.kompas.com

Friday, 22 June 2012

Klaim tari tor-tor, Malaysia dinilai krisis budaya

Rencana Malaysia menjadikan tari tor-tor sebagai warisan budaya Malaysia membuat sejumlah politikus Indonesia geram. Klaim Malaysia itu untuk kesekian kali.

"Kalau Malaysia banyak mengklaim budaya kita seperti reog, batik, keris dan sekarang tor-tor. Saya malah berpikir kalau Malaysia milik kita. Karena sama itu barang. Jadinya nanti Provinsi Malaysia," kata Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana kepada wartawan, Senin (18/6).

Sutan mempertanyakan motif Malaysia yang sering mengklaim budaya milik Indonesia. Menurut Sutan, klaim Malaysia itu bentuk krisis budaya sehingga sering mengaku-ngaku budaya negara lain.

"Bisa jadi, karena tidak ada budaya sendiri makanya mengklaim kiri-kanan," ujar dia.

Ke depan, semua warisan budaya Indonesia harus sudah didaftarkan. Sehingga tidak lagi diklaim oleh negara lain.

"Bukannya bangsa kita tidak menghargai budaya. Mestinya budaya kita didaftarkan di PBB, biar diakui. Dan ini sudah diproses zamannya Jero Wacik, tinggal tunggu saja," harap dia.

Sutan juga berharap Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengurusi masalah ini. "Ini urusan menteri pariwisata," jelas dia.

View the Original article