Sunday, 20 October 2013

Ilmuwan Temukan Bukti Kiamat dalam Sistem Planet

type='html'>Bukti apocalypse (kiamat) dalam sistem planet ditemukan oleh astronom yang mempelajari bintang mati di luar angkasa. Sisa-sisa kehancuran dari asteroid mengandung air menunjukkan bahwa ratusan juta tahun lalu, kemungkinan terdapat planet yang bisa dihuni mirip Bumi.

Dilansir Theage, kehancuran sistem planet ditandakan dengan meledaknya bintang, kemudian bintang tersebut runtuh menjadi 'white dwarf'. Ilmuwan percaya, kehidupan asing di luar sana juga memiliki peradaban cerdas seperti kehidupan manusia saat ini.


Bintang white dwarf atau kerdil putih yang diteliti ini diberi kode nama GD 61. Bintang tersebut ditakdirkan untuk mengakhiri hidupnya terlebih dahulu dengan melakukan ekspansi ke Red Giant, kemudian menumpahkan lapisan luarnya  serta menjadi bara api yang menyala dengan diameter hanya beberapa ribu kilometer.

Matahari dalam kondisi 'sekarat' itu kabarnya akan memancarkan apa yang tersisa dari kemampuan mengeluarkan panasnya selama miliaran tahun. Kemudian, matahari atau bintang tersebut mati dengan suhu yang kian rendah atau dingin, disebut 'black dwarf' (kerdil hitam).

Astronom mempelajari cahaya yang dipancarkan oleh GD 61 yang terletak 150 tahun cahaya dari Bumi. Astronom juga menemukan elemen batuan seperti besi, silikon dan magnesium serta oksigen dalam kuantitas yang menunjukkan jumlah air yang sangat besar.

Peneliti mengungkapkan, hanya asteroid besar yang memiliki kandungan air yang dapat memberikan informasi seputar observasi yang dilakukan ilmuwan. Batu raksasa yang memiliki diameter 90 kilometer bisa ditarik oleh gravitasi kuat bintang kerdil putih tersebut dan hancur berkeping-keping.

"Temuan air dalam asteroid besar berarti menunjukkan blok bangunan planet layak huni itu ada, dan mungkin masih ada dalam sistem GD 61," tutur Jay Farihi, Institute of Astronomy at Cambridge University. Para astronom melakukan observasi menggunakan Hubble Space Telescope dan teleskop besar Keck di Hawaii.


Sumber :
okezone.com

Friday, 26 October 2012

Peneliti Temukan Sumber Bunyi yang Paling Menyiksa Manusia

Para peneilti asal University of Newcastle, Inggris menemukan suara paling tak mengenakkan untuk didengar bagi manusia.

Temuan ini didapat setelah peneliti melihat interaksi di dalam otak sekitar 13 relawan yang diminta mendengar bunyi-bunyian dari 74 bunyi berbeda. Para relawan diminta mendengarkan bunyi-bunyian tersebut sambil otaknya dipindai menggunakan mesin MRI.


Dari penelitian itu ditemukan, gesekan pisau pada botol kaca menempati suara paling tak mengenakkan untuk didengar manusia.

Suara paling tak mengenakkan nomor dua adalah gesekan ujung mata garpu ke kaca. Sementara bunyi yang paling nyaman didengar dari seluruh sampel tadi adalah suara aliran air.

Sukhbinder Kumar, penanggung jawab penelitian ini mengatakan, ia dan rekannya, Tim Griffiths memilih suara-suara yang tidak memiliki koneksi pengalaman pahit atau emosi tak mengenakkan dalam diri relawan.

Hasil pindai menunjukkan, suara tak mengenakkan bukan saja meningkatkan aliran darah ke korteks auditori otak seseorang, tempat suara diproses, tetapi juga memicu amygdala, area primitif pada otak yang memproses emosi.

"Temuan ini juga menjelaskan kaitan antara korteks auditori dan amygdala. Kami berhasil mengetahui jaringan di dalam otak yang menghubungkan suara dan perasaan tak mengenakkan," jelas Griffiths.

Suara yang berada dalam frekuensi 2000-5000 Hertz adalah suara yang paling tak mengenakkan untuk didengar manusia, kata Kumar.

Temuan ini diharapkan bisa membantu para peneliti mengerti apa yang membuat sebagian orang lebih sensitif terhadap suara tertentu ketimbang orang lain, kata Kumar.

Harapannya, hal ini bisa membantu memberi jalan lain untuk melihat masalah misophonia, yakni intoleransi/kesensitivitasan berlebih terhadap bunyi, yang sedang didalami oleh Kumar.


Sumber :
blogapaaja.com