Saturday, 28 September 2013

Clean Room, Ruang Khusus Tempat Ilmuwan dan Teknisi NASA Bekerja

Membuat sebuah wahana antariksa yang mampu bekerja dengan maksimal dengan kondisi lingkungan yang ekstrem dan jarak yang jauhnya berjuta-juta kilometer dari Bumi tidaklah mudah.

Ilmuwan harus membuat wahana itu sesempurna mungkin sehingga saat diluncurkan semua instrumen bisa bekerja dengan baik sesuai yang diharapkan. Sebab jika terjadi sedikit saja kesalahan, maka tidak ada cara untuk memperbaikinya dan seketika itu juga wahana antariksa dengan harga berjuta-juta dolar tersebut akan berubah menjadi sampah luar angkasa.


Ilmuwan dan teknisi NASA sedang mengerjakan pembuatan satelit STEREO dalam clean room.
Image credit: NASA

Hal itulah yang membuat para ilmuwan NASA dituntut untuk bekerja dengan tepat, teliti, dan cermat untuk menghindari kesalahan seminimal mungkin bahkan sebisa mungkin nol persen. Biasanya mereka bekerja dalam ruangan yang disebut dengan "Clean Room" atau yang biasa diterjemahkan sebagai kamar / ruang bersih atau kamar steril.

Tidak sembarang orang bisa memasuki Clean Room tersebut. Hanya orang yang mempunyai akses khusus yang bisa masuk. Itu pun dengan syarat mereka harus menggunakan serangkaian perlengkapan seperti baju khusus, masker, penutup rambut, sepatu khusus, sarung tangan dan sebagainya.

Bahkan tidak jarang mereka harus mandi atau disemprot dengan cairan tertentu untuk menyeterilkan diri. Itu diperlukan untuk menghindari kontaminasi dari debu, partikel kimia atau bahkan mikroba pada peralatan atau instrumen yang sedang dikerjakan.

Clean room sendiri menurut sejarah pertama kali dikembangkan oleh fisikawan Amerika, Willis Whitfield dari Sandia National Laboratories. Clean room yang dibuatnya sangat efektif.

Udara yang masuk ke clean room terlebih dulu disaring dari partikel debu dan sebagainya kemudian secara teratur diresirkulasi melalui High Efficiency Particulate Air (HEPA) atau Ultra Low Penetration Air (ULPA) untuk menghilangkan kontaminan yang berasal dari dalam clean room.

Terkadang dalam clean room juga dilengkapi dengan ionizers untuk mengatur kelembaban. Jika terjadi kebocoran gas dalam clean room, maka kebocoran itu langsung bisa dikeluarkan melalui saluran yang berbeda dengan saluran udara bersih.

Peralatan yang ada dalam clean room juga harus steril sebab bisa jadi udara yang tadinya bersih menjadi tercemar akibat peralatan itu.

Ada beberapa standar yang banyak digunakan dalam desain clean room di Amerika yakni US FED STD 209E cleanroom standards, ISO 14644-1 cleanroom standards, BS 5295 cleanroom standards, dan GMP EU classification yang mengatur tentang jumlah dan ukuran partikel yang dapat ditoleransi dalam suatu volume udara. Berikut adalah macam-macam sistem aliran udara pada clean room:



Aliran udara lurus searah pada clean room. Image credit: Rudolf Simon



Aliran udara berputar pada clean room. Image credit. Rudolf Simon


Instrumen yang perlu dikerjakan dalam clean room yakni instrumen yang sangat sensitif dengan partikel asing, seperti instrumen laboratorium, semikonduktor, bioteknologi dan sebagainya. Sebab jika instrumen itu tercemari, maka hasil yang diharapkan dari kinerja instrumen itu juga akan berbeda dan tidak sesuai dengan harapan.

Biasanya ilmuwan NASA mengerjakan satelit, wahana pengorbit, robot, wahana penjelajah dan sebagainya dalam clean room ini. Salah satunya adalah cermin (mirror) reflektor dari teleskop James Webb.

Sebuah cermin reflektor harus bersih dari partikel apapun agar bisa memantulkan gelombang dan sinar secara maksimal sehingga obyek yang sedang diamati bisa jelas terlihat dan data yang diproses bisa akurat.


Ilmuwan NASA memeriksa cermin reflektor teleskop James Webb yang akan dipasang.
Image credit: NASA




Ilmuwan NASA mengerjakan pembuatan wahana MSL (mars Science Laboratory)
atau wahana crane untuk menurunkan Curiosity di Mars. Image credit: NASA




Ilmuwan NASA sedang melakukan tes dan uji coba pada instrumen Curiosity.
Image credit: NASA


Sumber :
astronomi.us

Tuesday, 20 November 2012

Zeng Daxia, Pergi Bekerja dengan Parasut Menghindari Macet

Zeng Daxia (42), punya cara praktis menghindari kemacetan di kota tempat tinggalnya. Zhuzhou, Propinsi Hunan, China. Zeng terbang melintasi udara dengan parasutnya, menyeberangi Sungai Xiangjiang dan tiba di tempat bekerja tepat waktu.



Sebagai kota yang bertumbuh pesat akibat booming ekonomi Cina, kemacetan jadi pemandangan biasa di Zhuzhou. Apalagi kota ini terbelah oleh Sungai Xiangjiang. Warga yang berkantor di sisi kota lain harus melintas jembatan Zhuzhou Xiangjiang River Bridge sepanjang kurang-lebih 1,3 km. Yang menjadi masalah, terdapat 7000 kendaraan berada di atas jembatan setiap jamnya, sementara kapasitas optimal hanya 2700 kendaraan. bisa ditebak, kemacetan selalu terjadi.

Zeng Daxia tidak punya masalah dengan waktu yang terbuang percuma karena macet. Dengan paragliding bermotor, ia hanya butuh waktu 1 menit menyeberangi sungai. Berkat inovasinya yang menarik perhatian, Zeng bahkan berharap, "Kondisi di Zhuzhou sangat cocokparagliding. Mungkin saja  olah raga ini bisa dikembangkan sebagai daya tarik wisata."

Kebetulan, ia menjadi pelatih di klub paragliding setempat. Untuk menjadi anggota, seseorang harus membayar antara 30.000 - 60.000 yuan. Mereka akan dilatih menggunakan paragliding bermotor - terdapat baling-baling dan parasut yang bisa membumbungkan seseorang ke angkasa.

Walau bagi kebanyakan warga Zhuzhou harga ini relatif mahal, namun ada sekitar 1000 orang bergabung di klub. Mereka biasanya berlatih terbang di atas Sungai Shiyang, 20 km dari Zhuzhou.





Sumber:
chinadaily

Monday, 19 November 2012

Zeng Daxia, Pergi Bekerja dengan Parasut Menghindari Macet

Zeng Daxia (42), punya cara praktis menghindari kemacetan di kota tempat tinggalnya. Zhuzhou, Propinsi Hunan, China. Zeng terbang melintasi udara dengan parasutnya, menyeberangi Sungai Xiangjiang dan tiba di tempat bekerja tepat waktu.



Sebagai kota yang bertumbuh pesat akibat booming ekonomi Cina, kemacetan jadi pemandangan biasa di Zhuzhou. Apalagi kota ini terbelah oleh Sungai Xiangjiang. Warga yang berkantor di sisi kota lain harus melintas jembatan Zhuzhou Xiangjiang River Bridge sepanjang kurang-lebih 1,3 km. Yang menjadi masalah, terdapat 7000 kendaraan berada di atas jembatan setiap jamnya, sementara kapasitas optimal hanya 2700 kendaraan. bisa ditebak, kemacetan selalu terjadi.

Zeng Daxia tidak punya masalah dengan waktu yang terbuang percuma karena macet. Dengan paragliding bermotor, ia hanya butuh waktu 1 menit menyeberangi sungai. Berkat inovasinya yang menarik perhatian, Zeng bahkan berharap, "Kondisi di Zhuzhou sangat cocokparagliding. Mungkin saja  olah raga ini bisa dikembangkan sebagai daya tarik wisata."

Kebetulan, ia menjadi pelatih di klub paragliding setempat. Untuk menjadi anggota, seseorang harus membayar antara 30.000 - 60.000 yuan. Mereka akan dilatih menggunakan paragliding bermotor - terdapat baling-baling dan parasut yang bisa membumbungkan seseorang ke angkasa.

Walau bagi kebanyakan warga Zhuzhou harga ini relatif mahal, namun ada sekitar 1000 orang bergabung di klub. Mereka biasanya berlatih terbang di atas Sungai Shiyang, 20 km dari Zhuzhou.





Sumber:
chinadaily

Tuesday, 4 September 2012

10 Selebriti yang pernah bekerja di McDonald

Tahukah kamu kalau perjuangan bintang-bintang besar sangatlah besar, bisa dibilang impian mereka dimulai dari suatu yang kecil. Dan di bawah ini adalah para bintang yang memulai karirnya dari bawah sebelum mereka terkenal, yaitu sebagai pekerja di McDonald.

1. Star Jones
http://hermawayne.blogspot.com
Sebelum pernikahannya dengan Al Reynolds pada November 13, 2004 yang menghabiskan biaya sekitar $ 1 juta, pada masa lalu, Star Jones adalah salah satu staf McDonald yang memasak kentang goreng paling terkenal di dunia.

2. Jay Leno
http://hermawayne.blogspot.com
Jay Leno dikenal sebagai pelawak dan host untuk acara talk show tengah malam, 'The Tonight Show with Jay Leno' di tahun 1992. Sebelum memulai karirnya, pekerjaan pertama Leno berada di balik meja restoran McDonald yang terletak di Andover, Massachusetts.

3. Pink
http://hermawayne.blogspot.com
Pink adalah penyanyi yang juga penulis lagu asal Amerika yang nama aslinya adalah Alecia Moore. Dia merilis album pertamanya berjudul ‘Can’t Take Me Home’ pada tahun 2000 melalui LaFace Records. Sebelum ia menjadi sekarang ini, dia telah bekerja di McDonald di Philadelphia dan tugasnya membalik burger termasuk membersihkan toilet dan mengepel lantai.

4. Seal
http://hermawayne.blogspot.com
Artis Grammy asal Inggris, Seal Samuel yang menikah dengan Supermodel Jerman, Heidi Klum, juga pernah bekerja di McDonald pada usia 17 dan tugasnya adalah membersihkan lobi. Seal mengklaim bahwa ia bekerja di McDonald hanya selama 2 minggu.

5. Rachel McAdams
http://hermawayne.blogspot.com
Rachel McAdams adalah aktris Kanada yang lahir pada 17 November 1978 di Rumah Sakit St Joseph, London, Ontario. Dia menghabiskan sekitar tiga tahun bekerja di McDonald sebelum menjadi seorang aktris terkenal.

6. Tony Stewart
http://hermawayne.blogspot.com
Jika Anda salah satu dari fans Nascar, pasti tahu dengan Tony Stewart. Sebelum menjadi pembalap Nascar, Tony Stewart bekerja di berbagai pekerjaan, termasuk sebagai staf McDonald.

7. Keenan Ivory Wayans
http://hermawayne.blogspot.com
Keenan Ivory Wayans pernah bekerja sebagai manajer McDonald sementara dia sedang sekolah tinggi di New York. Keenan merasa bangga dalam pekerjaan ini karena ia telah membantu keluarganya dalam hal keuangan.

8. Shania Twain
http://hermawayne.blogspot.com
Nama lengkapnya adalah Eileen Regina Edwards, dan lahir pada 28 Agustus 1965 di Windsor, Ontario, Kanada. Sebelum menjadi seorang seniman musik country dan pop, dia bekerja di McDonald ketika remaja di Ontario, Kanada.

9. Sharon Stone
http://hermawayne.blogspot.com
Bintang film cantik dan seksi ini juga salah satu alumni lain McDonald. Nama sebenarnya adalah Sharon Vonne Stone yang lahir pada tanggal 10 Maret 1958 di Meadville, Pennsylvania, Amerika Serikat.

10. Fred Durst
http://hermawayne.blogspot.com
Fred Durst adalah penyanyi utama dari rapcore band, Limp Bizkit. Ia dilahirkan pada 20 Agustus 1970 di Jacksonville, Florida, Amerika Serikat. Sebelum bergabung dengan Limp Bizkit, ia bekerja di shift pagi di sebuah restoran McDonald di Florida.