Sunday, 29 September 2013

Video Menegangkan Saat Seorang Fotografer Nyaris Diterkam Buaya

type='html'>
Video Menegangkan Saat Seorang Fotografer Nyaris Diterkam Buaya - Sebuah wilayah di Costa Rica yang terkenal sebagai wilayah “Crocodile Bridge”. Itulah wilayah Rio Tarcoles, di mana sungai di wilayah tersebut penuh dengan buaya-buaya ganas.

Mengetahui bahwa wilayah tersebut terkenal sebagai wilayah kekuasaan para buaya, maka seorang fotografer bernama Antonio Ruiz asal Costa Rica, bersama temannya David Clow dan beberapa teman lainnya, datang ke wilayah tersebut untuk memotret lebih dekat para buaya ganas tersebut.

Untuk memancing buaya-buaya itu, David dan teman-temannya melemparkan potongan daging segar ke sungai. Sedangkan Antonio mengambil posisi persis di pinggir sungai demi untuk mendapatkan foto buaya tersebut dari jarak dekat agar hasilnya jelas dan natural.

Saat dua buaya berenang semakin mendekat ke pinggir sungai, teman-teman Antonio sudah berteriak untuk memperingatinya. Tetapi, Antonio malah menyuruh temannya jangan berisik dan terus memancing buaya tersebut dengan potongan daging.

Saat Antonio sedang menoleh ke arah temannya, dia tidak menyadari kalau salah satu buaya sudah merangkak naik ke pinggir sungai. Hanya tinggal beberapa senti lagi, mungkin Antonio bisa kehilangan kakinya, kalau teman-temannya tidak berteriak semakin keras untuk memperingatinya.

Ketika menyadari hal tersebut, barulah Antonio berlari tergesa-gesa dan naik ke tanah yang lebih tinggi.

Momen menegangkan itu direkam oleh David, dan videonya diunggah ke YouTube. Ternyata, video tersebut sudah dilihat lebih dari 400.000 kali oleh pengunjung YouTube. | ciricara.com

Berikut Video Menegangkan saat fotografer nyaris diterkam buaya:

Friday, 27 September 2013

Hikayat Kassian, Pelopor Fotografer Pribumi Indonesia

Jika Anda penikmat foto atau berniat jadi fotografer, maka sebaiknya mengenal tokoh penting dunia fotografi di Indonesia. Dialah Kassian Cephas. Namanya  banyak disebut sebagai pelopor pemotret pribumi yang pertama di indonesia. Hasil jepretannya menjadi saksi sejarah gerak hidup Kraton, masyarakat Jawa, bahkan pengabadi Borobudur di akhir abad 19.

Terlahir dengan nama Kasihan di Kota Yogyakarta pada tanggal 15 Januari 1845, merupakan putra dari seorang ayah yang bernama Kartodrono dan seorang ibu yang bernama Minah. 


Tetapi beberapa literatur menyebutkan bahwa Cephas merupakan anak asli orang belanda yang bernama Frederik Bernard Franciscus Schalk dan lahir pada tanggal 15 Februari 1844 (Sumber lain menyebut  ia adalah anak angkat).

Setelah masuk kristen protestan dan dibaptis pada tanggal 27 Desember 1860 di sebuah gereja di Kota Purworejo, nama Kasihan berubah menjadi Kassian Cephas. Nama “Cephas” tersebut merupakan nama baptis yang sama artinya dengan Petrus dalam bahasa indonesia.

Cephas belajar fotografi untuk pertama kalinya kepada seorang fotografer dan pelukis yang bernama Isodore Van Kinsbergen di Jawa Tengah poda kurun waktu 1863-1875.

Selain Kinsbergen, Cephas pun sempat berguru kepada Simon Willem Camerik, seorang fotografer dan pelukis yang kerap mendapatkan tugas memotret kraton Yogyakarta dari Sultan Hamengkubuwono VII.

Pada tahun 1870 ketika Camerik meninggalkan Yogyakarta, Cephas diberi amanat oleh Sultan Hamengkubuwono VII sebagai fotografer dan pelukis resmi kraton Yogyakarta.  Karya foto pertama Cephas menggambarkan obyek Candi Borobudur yang dibuat pada tahun 1872.
 




 

Cephas memiliki sebuah studio foto di daerah Loji Kecil yang sekarang letaknya berada di Jalan Mayor Suryotomo dekat Sungai Code di Jawa Tengah. Cephas pun mempunyai seorang asisten foto yang bernama Damoen.

Nama Cephas semakin bersinar ketika Isaac Groneman yaitu seorang dokter resmi sultan asal belanda memujinya di sebuah artikel yang ia tulis untuk untuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Lembaga Kesenian dan Ilmu Pengetahuan Batavia) pada tahun 1884.
 
HB VII dengan pakaian kebesaran Kesultanan Yogyakarta - 1890 (kiri). HB VII dengan kostum militer Belanda - Pada 1878

Tari Bedhaya, In den Kedaton, 1884.

Lodji Ketjil Wetan, Yogyakarta, tempat tinggal Cephas - 1895

Pregiwa - Putra Mahkota Hamengkunegara III sebagai Gatotkaca, menggendong Pregiwa - De Wajang Orang, 1899 (kiri). Potret studio perempuan muda Jawa, 1900 (kanan)

Pertunjukan wayang beber oleh Gunakarya dari Gelaran, Gunung Kidul, di rumah Wahidin Sudirohusodo, untuk penelitian G.A.J. Hazeu, 1902
 
Publikasi luas foto-foto Cephas dimulai pada tahun 1888 ketika ia membantu membuat foto-foto untuk buku karya Isaac Groneman, seorang dokter yang banyak membuat buku-buku tentang budaya Jawa, yang berjudul: In den Kedaton te Jogjakarta. Pada buku karya Groneman yang lain: De Garebeg’s te Ngajogjakarta, karya-karya foto Cephas juga ada di situ.

Kemudian Cephas bergabung dengan sebuah perkumpulan yang didirikan oleh Isaac Groneman dan J.W. Ijzerman mendirikan Vereeniging voor Oudheid-, Land,- Taal- en Volskenkunde te Yogjakarta (Union for Archeology, Geography, Language and Etnography of Yogyakarta) pada tahun 1885 ( yang selanjutnya disebut Vereeniging voor Oudheid). Karir Cephas pun semakin meningkat ketika ia bergabung dengan perkumpulan tersebut.

Pada saat Cephas berumur 60 tahun, beliau mulai pensiun dari bisnis fotografi yang digelutinya.  Sem, putra Cephas meneruskan karirnya di dunia fotografi.

Tanggal 16 November 1912 menjadi hari yang bersejarah. Kassian Cephas meninggal dunia setelah mengalami sakit yang berkepanjangan. Ia dimakamkan di Kuburan Sasanalaya yang terletak antara pasar Beringharjo dan Loji kecil.

















Sumber:
seribukata.
fotografius
fotografiindonesia.

Thursday, 15 November 2012

OMG! Atas Nama Seni, Fotografer Ini Goreng semua produk APPLE Sampai Gosong !!!


Mau iPad dan iPhone goreng? Ini bukan sebuah menu kuliner restoran. Memang sangat sayang jika dua gadget canggih ini digoreng. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi fotografer New Zealand, Henry Hargreaves. Seperti apa? iPad iMac iPhone Gosong iPad iMac iPhone Gosong Demi sebuah karya seni, fotografer ini rela menggoreng iPad dan iPhone. Tak hanya dua gadget canggih itu saja yang digoreng Henry Hargreaves, ia bahkan ‘memasak’ iPod dan iMac.


Namun untungnya pelbagai divice keluaran Apple tersebut hanyalah replika. Pria berumur 32 tahun ini mengaku tak cukup kaya untuk memiliki perangkat buatan Steve Jobs itu. “Saya tidak cukup kaya untuk membeli dan menghancurkannya dan aku tidak ingin mengetahui apa yang terjadi pada baterai lithium ketika dimasak 400 derajat di minyak panas,” ujar Henry Hargreaves seperti dikutip dari Sidomi News, Sabtu (09/06/12).


Lantas darimanakah ide seni gila ini muncul? Henry Hargreaves mengaku terinspirasi dari anak Jepang yang berusaha menggoreng PSP dan memakannya. “Saya menemukan sebuah video dari beberapa anak Jepang yang menggoreng PSP dan memakannya. Namun hal tersbeut tak bekerja dan justru menjadi berantakan,” imbuh Henry Hargreaves. Henry Hargreaves adalah seorang fotografer yang tidak asing dengan objek kuliner. Baru-baru ini ia membuat sebuah potret Ratu dari 1.400 potong roti bakar dalam perayaan Diamond Jubilee (perayaan 75 tahun Ratu Elizabeth II memerintah). Setelah melihat foto di atas, apakah Anda tertarik untuk mencoba hal serupa pada gadget Anda? (Sumber)



The FryPad - good luck trying out Angry Birds on this tablet - you won't see a thing and we don't expect the touchscreen works, either
Deep fried iPad: Photographer Henry Hargreaves did something that must make Apple fans cry into their pillow - but luckily it was not a real tablet
Deep fried iPhone: Photographer Henry Hargreaves did something that must make Apple fans cry into their pillow - but luckily it was not a real phone
The FryPhone - good luck trying out Angry Birds on this - you won't see a thing and we don't expect the touchscreen works, either
An iPod
Digging out the old crusty iPod, you may find yourself needing some earphones to suit - well, Henry Hargreaves has just the thing
Digging out the old crusty iPod, you may find yourself needing some earphones to suit - well, Henry Hargreaves has just the thing
A meal that no-one will have touched since the 1980s: The GameBoy was the first popular handheld gaming machine - now it's just desserts
A meal that no-one will have touched since the 1980s: The GameBoy was the first popular handheld gaming machine - now it's just desserts
Nor so MacBook Pro now: This version of Apple's laptop would probably not even justify£5 on eBay - although luckily it's just a recreation
Nor so MacBook Pro now: This version of Apple's laptop would probably not even justify£5 on eBay - although luckily it is just a recreation




sumber :http://www.ruanghati.com/2012/06/16/omg-atas-nama-seni-fotografer-ini-goreng-iphone-sampai-gosong/