Friday, 27 September 2013

Apa yang Terjadi Bila Semua Es di Kutub Mencair?

National Geographic baru-baru ini mengeluarkan sebuah peta interaktif yang menyajikan bagaimana keadaan di planet Bumi jika seluruh es di dunia ini mencair. Es yang mencair akan menaikkan tingkat permukaan laut setinggi 65,8 meter yang mengakibatkan beberapa kota-kota besar di seluruh dunia tenggelam termasuk New York, London, Amsterdam, Bangkok, Singapura, Tokyo, dan Jakarta. Banyak negara-negara yang akan kehilangan wilayahnya dan peta dunia tak akan pernah sama lagi.

Berdasarkan penelitian, ada lebih dari delapan juta kilometer kubik es dipermukaan Bumi dan menurut beberapa ilmuwan dibutuhkan waktu kurang lebih 5000 tahun untuk mencairkan semuanya. 

Ilustrasi London yang tenggelam / tropicalrainforest-animal.com


Jika manusia terus menambahkan jumlah karbon ke atmosfer bisa jadi kelak es akan hilang dari permukaan planet Bumi, bahkan suhu rata-rata planet Bumi akan meningkat dari 14,4 derajat Celcius menjadi 26,67 derajat Celcius atau naik hampir dua kali lipat!

Berikut adalah peta keadaan dunia setelah seluruh es mencair:





Afrika

Benua Afrika hanya mengalami sedikit perubahan. Namun beberapa kota akan tenggelam seluruhnya seperti kota Dakar dan kota Bissau. Melihat jauh ke Utara kita akan melihat beberapa kota di Timur Tengah ikut tenggelam seperti Baghdad, Alexandria, Kuwait, dan Dubai.

 

Asia

Beberapa kota besar seperti Jakarta, Singapura, Bangkok, Tokyo dan Seoul akan tenggelam. Bentuk pulau Sumatra dan Kalimantan pun tidak akan seperti dulu lagi. Kemudian lebih dari 600 juta orang di China akan kehilangan tempat tinggalnya dan yang paling parah Negara Bangladesh akan benar-benar terhapus dari peta.


Australia

Tidak begitu banyak perubahan di benua Australia kecuali munculnya sebuah teluk baru yang menjorok hingga mencapai ke tengah-tengah benua kangguru itu.


Eropa

London tinggal kenangan. Venice dicaplok laut Adriatik. Copenhagen, Stockholm, dan Helsinki tenggelam. Bahkan seluruh negara Belanda akan tinggal menjadi sejarah.


Amerika Utara

Pesisir Timur Amerika akan mengalami dampak yang lebih parah daripada Pesisir Barat Amerika. Bila di Pesisir Barat negara bagian California akan menjadi “kepulauan” maka di Pesisi Timur akan ada banyak kota yang tenggelam seperti New York, Miami, Tampa, dan Boston. Bahkan ibukota Amerika Serikat, Washington D.C., pun sebagian besar akan tenggelam.


Amerika Selatan

Sungai Amazon akan melebar sehingga seolah-olah membelah negara Brazil. Buenos Aires akan tenggelam, sebagian Paraguay juga akan tenggelam. Hanya kota-kota di pesisir Barat lah yang lebih beruntung karena terletak di dataran tinggi.

 

Antartika

Kita akan melihat dataran di Antartika untuk pertama kalinya. Antartika bagian Timur memiliki lebih banyak daratan daripada Antartika bagian Barat. Sejatinya Antartika bagian Timur memiliki lapisan es yang paling tebal sehingga mungkin disinilah letak es paling akhir di dunia sebelum seluruhnya mencair.





















Sumber:
mobgenic

Thursday, 15 November 2012

OMG! Atas Nama Seni, Fotografer Ini Goreng semua produk APPLE Sampai Gosong !!!


Mau iPad dan iPhone goreng? Ini bukan sebuah menu kuliner restoran. Memang sangat sayang jika dua gadget canggih ini digoreng. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi fotografer New Zealand, Henry Hargreaves. Seperti apa? iPad iMac iPhone Gosong iPad iMac iPhone Gosong Demi sebuah karya seni, fotografer ini rela menggoreng iPad dan iPhone. Tak hanya dua gadget canggih itu saja yang digoreng Henry Hargreaves, ia bahkan ‘memasak’ iPod dan iMac.


Namun untungnya pelbagai divice keluaran Apple tersebut hanyalah replika. Pria berumur 32 tahun ini mengaku tak cukup kaya untuk memiliki perangkat buatan Steve Jobs itu. “Saya tidak cukup kaya untuk membeli dan menghancurkannya dan aku tidak ingin mengetahui apa yang terjadi pada baterai lithium ketika dimasak 400 derajat di minyak panas,” ujar Henry Hargreaves seperti dikutip dari Sidomi News, Sabtu (09/06/12).


Lantas darimanakah ide seni gila ini muncul? Henry Hargreaves mengaku terinspirasi dari anak Jepang yang berusaha menggoreng PSP dan memakannya. “Saya menemukan sebuah video dari beberapa anak Jepang yang menggoreng PSP dan memakannya. Namun hal tersbeut tak bekerja dan justru menjadi berantakan,” imbuh Henry Hargreaves. Henry Hargreaves adalah seorang fotografer yang tidak asing dengan objek kuliner. Baru-baru ini ia membuat sebuah potret Ratu dari 1.400 potong roti bakar dalam perayaan Diamond Jubilee (perayaan 75 tahun Ratu Elizabeth II memerintah). Setelah melihat foto di atas, apakah Anda tertarik untuk mencoba hal serupa pada gadget Anda? (Sumber)



The FryPad - good luck trying out Angry Birds on this tablet - you won't see a thing and we don't expect the touchscreen works, either
Deep fried iPad: Photographer Henry Hargreaves did something that must make Apple fans cry into their pillow - but luckily it was not a real tablet
Deep fried iPhone: Photographer Henry Hargreaves did something that must make Apple fans cry into their pillow - but luckily it was not a real phone
The FryPhone - good luck trying out Angry Birds on this - you won't see a thing and we don't expect the touchscreen works, either
An iPod
Digging out the old crusty iPod, you may find yourself needing some earphones to suit - well, Henry Hargreaves has just the thing
Digging out the old crusty iPod, you may find yourself needing some earphones to suit - well, Henry Hargreaves has just the thing
A meal that no-one will have touched since the 1980s: The GameBoy was the first popular handheld gaming machine - now it's just desserts
A meal that no-one will have touched since the 1980s: The GameBoy was the first popular handheld gaming machine - now it's just desserts
Nor so MacBook Pro now: This version of Apple's laptop would probably not even justify£5 on eBay - although luckily it's just a recreation
Nor so MacBook Pro now: This version of Apple's laptop would probably not even justify£5 on eBay - although luckily it is just a recreation




sumber :http://www.ruanghati.com/2012/06/16/omg-atas-nama-seni-fotografer-ini-goreng-iphone-sampai-gosong/

Friday, 26 October 2012

Semua Terjadi Karena Suatu Alasan


Semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa. Tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Dan aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadilah.

Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang-alik Challanger. Dan warga itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru.

Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Ini benar-benar terjadi padaku.

Selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan test fisik dan mental. Begitu test selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu aku semakin dekat pada impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center .

Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini ?

Tuhan, biarlah diriku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memilih orang lain yaitu Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur.

Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku?

Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan kejam? Aku berpaling pada ayahku. Ia berkata, "Semua terjadi karena suatu alasan."

Selasa, 28 Januari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challanger. Saat pesawat itu melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku?

Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challanger meledak, dan menewaskan semua penumpang.

Aku teringat kata-kata ayahku: “Semua terjadi karena suatu alasan.” Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini. Aku memiliki misi lain dalam hidup.

Aku tidak kalah, aku seorang pemenang. Aku menang karena aku telah kalah. Aku, Frank Slazak, masih hidup untuk bersyukur pada Tuhan karena tidak semua doaku dikabulkan.

Tuhan mengabulkan doa kita dengan 3 cara:

1. Apabila Tuhan mengatakan YA. Maka kita akan mendapatkan apa yang kita minta.

2. Apabila Tuhan mengatakan TIDAK. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang lain yang lebih sesuai untuk kita.

3. Apabila Tuhan mengatakan TUNGGU. Maka mungkin kita akan mendapatkan yang terbaik sesuai dengan kehendak-Nya.


Sumber :
emotivasi.com