Tuesday, 6 November 2012

Wah, Gajah ini Bisa Meniru Suara Manusia

Otak hewan semakin cerdas, atau pembuktian Nabi Sulaiman dulu bisa berkomunikasi dengan hewan? Entah, yang pasti ilmuwan berusaha terus membuka tabir bagaimana cara berkomunikasi dengan hewan. Salah satu cara melatih mereka mengucapkan bahasa manusia.

Burung beo paling mudah dilatih, buktinya banyak. Yang susah justru melatih simpanse. Padahal kekerabatannya paling dekat dengan manusia.

 


Uniknya, seekor gajah di Korea Selatan berhasil dilatih sehingga bisa mengucapkan beberapa kata seperti: annyong atau halo, anja atau duduk, aniya atau tidak, nuo atau berbaring, dan choah atau bagus.

Gajah ini bernama Koshik, hidup di Kebun Binatang Everland, Korea Selatan. Sang pelatih menerapkan teknik tak biasa untuk melatihnya. Untuk diketahui, gajah tak punya bibir sehingga susah melatihnya. Maka Koshik menempatkan belalainya di mulut dan mengirimkan suara vokalnya ke dalam bentuk berbeda.

Kabar ini mengejutkan banyak ahli. Misalnya saja, enam belas ahli bahasa Korea diminta mendengarkan 47 rekaman dari bahasa gajah tadi dan mengungkapkan apa yang mereka percaya telah dengarkan. Sebanyak 56 persen mengatakan, gajah itu bicara annyong, 44 persen mendengar aniya, dan 33 persen mengidentifikasi nuo.

Para peneliti menyimpulkan bahwa Koshik lebih baik menirukan suara vokal daripada konsonan, dengan banyaknya kesalahan identifikasi choah menjadi boah (melihat) atau moa (mengumpulkan).

Kemampuan Koshik meniru suara manusia diketahui pertama kali pada 2004 saat usianya 14 tahun. Namun peneliti mengatakan bahwa ini lebih seperti bangunan hasil upayanya berkomunikasi dengan pengasuhnya, sementara dia satu-satunya gajah di Everland antara tahun 1995-2002.



 

Sunday, 28 October 2012

Gajah Berkaki Palsu Pertama di Dunia

Kaki palsu bisa membantu aktivitas mereka yang memiliki kekurangan di bagian kaki. Selama ini kaki palsu hanya digunakan oleh manusia. Tapi, bagaimana jika kaki palsu tersebut dikenakan seekor gajah?


Inilah yang dialami Mosha, gajah berusia tiga tahun yang tinggal di Lampang, Thailand. Mosha terpaksa kehilangan kaki kanan depannya sejak usia tujuh bulan akibat terjatuh di sebuah tambang.

Beruntung, saat kecelakaan itu nyawa Mosha bisa diselamatkan. Ia dilarikan ke rumah sakit Friends of the Asian Elephant (FAE) di Lampang tahun 2007. FAE adalah satu-satunya rumah sakit gajah yang ada di dunia.

Nyatanya, dengan hanya memiliki tiga kaki, Mosha sepertinya minder bergaul dengan gajah-gajah lain yang ada di rumah sakit tersebut. Saking minder dan stresnya, Mosha menolak menyentuh makanannya.

Tim dokter yang menangani Mosha khawatir dengan kondisinya tersebut. Sampai suatu kali Mosha bertemu dengan Dr Therdchai Jivacate, yang menjalankan yayasan amputasi manusia, Prostheses Foundation. Dr Jivacate sangat tahu Mosha tidak akan selamat karena ia akan bertambah besar sesuai usianya. “Jika tidak bisa berjalan, ia akan mati,” terang Jivacate.

Selama ini yayasan milik Jivacate membuat kaki palsu untuk lebih dari 16.000 manusia. Namun, mereka tidak pernah membuatnya untuk gajah sampai Mosha menarik perhatian Jivacate.

Setelah melalui riset khusus, akhirnya tim dokter di Prostheses Foundation berhasil membuat kaki palsu untuk Mosha. Kaki palsu itu terbuat dari campuran bahan plastik, serbuk gergaji, dan besi, yang memungkinkannya mampu menahan berat badan Mosha. Kaki palsu ini untuk pertama kalinya di dunia dikenakan seekor gajah.

Banyak gajah yang dirawat di rumah sakit tersebut. Ada yang mengalami infeksi, patah tulang, ataupun cedera lutut. Tapi di antara gajah-gajah penghuni rumah sakit tersebut, Moshalah yang akhirnya terkenal, terutama dengan kaki palsunya.

Gara-gara kaki palsu itu pula, rasa minder dan stres Mosha berangsur hilang. Sekitar setahun setelah operasi yang dilakukannya, Mosha mau makan setiap hari. Ia pun tumbuh berkembang semakin besar sehingga tim dokter pun membuatkannya kaki palsu baru yang lebih besar dan lebih kuat. Kini Mosha semakin rajin beraktivitas. Setelah bermain-main, ia biasanya beristirahat dan tidur. Kaki palsunya dilepas setiap ia tidur.

“Mosha memang sudah seharusnya bisa hidup lebih lama dan bahagia. Ia tumbuh dengan percaya diri dan kini ia senang bisa bermain dengan rekan-rekannya yang lain,” ujar Soraida Salwala, salah satu staf FAE.

Saat ini Mosha masih tinggal di FAE. Sebelumnya, ia tinggal di hutan tropis di wilayah utara Thailand di dekat perbatasan Kamboja. Mosha kini juga menjadi simbol baru perlawanan terhadap penggunaan senjata yang dilarang.

Thursday, 25 October 2012

Kopi Kotoran Gajah Ini Mengalahkan Harga Kopi Luwak

Sesuatu yang aneh terkadang berharga mahal, mungkin pernyataan tersebut cocok dengan berita kali ini. Anda pasti kenal dengan kopi luwak, kopi termahal khas dari wilayah Indonesia. Namun kini kopi luwak tersaingi oleh kedatangan dari kopi gajah, kopi yang dihasilkan dari kotoran gajah.


Di Thailand terdapat sebuah resor wilayah Chiang Rai yang memproduksi kopi khas buatan mereka sendiri. Kopi ini tergolong kopi yang baru di dunia. Karena memang kopi tersebut dihasilkan melalui kotoran yang dikeluarkan oleh gajah.

Gajah-gajah yang dipakai untuk memproduksi kopi dirawat oleh pengembang sendiri, sehingga kualitas kopi gajah dapat dijaga dengan baik. Hotel Anantara yakin bahwa kopi yang mereka jual kepada konsumen adalah kopi dengan harga termahal.

Menurut salah satu penelitian menyimpulkan bahwa enzim gajah dapat berfungsi sebagai pemecah protein kopi. Sehingga rasa yang dihasilkan oleh kopi gajah tidaklah terlalu pahit.

Bila Anda ingin merasakan kopi gajah ini, maka siapkan dulu duit 10 juta rupiah untuk membeli satu kilogramnya. Sedangkan untuk harga percangkirnya dikenakan 480 ribu rupiah.

Untuk harga kopi luwak saat ini mencapai kisaran 5 juta lebih perkilonya, atau 300 ribu rupiah percangkirnya.


Sumber :
uniqpost.com