Tuesday, 8 October 2013

Gubernur DKI Jakarta Jokowi Ingin Adakan MotoGP di Jakarta

type='html'>
Gubernur DKI Jakarta Jokowi Ingin Adakan MotoGP di Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo baru-baru ini mengajukan ide agar Kota Jakarta bisa mengadakan berbagai macam event internasional. Selain akan menyelenggarakan lomba lari marathon, Jokowi saat ini sedang bernegosiasi agar kejuaraan dunia MotoGP bisa digelar di Jakarta.

"Grand Prix nanti lu jual gue belilah. Memang ini promosi Jakarta dalam jangka menengah dan panjang," ujar Jokowi di Monas, Jakarta, Senin (30/9) yang lalu.

Menurut Mantan Walikota Solo ini tujuannya menggelar event-event internasional sebagai promosi Kota Jakarta agar bisa dikenal dunia internasional. Menurutnya, promosi yang diperlukan sebesar Rp 1 triliun.

"Ini marketing kota, memang butuh biaya, tapi saya rasa efeknya positif," ujarnya. Hal ini dilakukan juga karena Jakarta belum mempunyai branding yang kuat sebagai suatu kota.

Untuk menindaklanjuti promosi Jakarta, dia menugaskan tim untuk menanyakan persyaratan dan urusan teknis dalam menyelenggarakan MotoGP.

"Ini mau ke Macau pada Oktober nanti, kami mengirim orang ke sana untuk negosiasi," ujar Jokowi.

Hal ini didukung juga oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo. Dia mengatakan Jakarta harus bisa menyelenggarakan Grand Prix. Menurutnya, tempat yang tepat untuk itu adalah di Kemayoran Jakarta Pusat.

"Membutuhkan lapangan aspal, tinggal lintasannya yang dibuat," ujarnya.

Minggu ini (6/10) waktu setempat akan digelar MotoGP Sepang, Malaysia dimana Marquez dan Pedrosa akan disidang akibat senggolan yang terjadi pada pertandingan terakhir MotoGP Aragon. Marquez punya peluang besar sebagai pemegang poin tertinggi pada musim ini, meskipun dia merupakan wajah baru di MotoGP. | jawaban.com

Wednesday, 21 November 2012

Fakta dibalik Kisah Berdirinya Patung-patung Monumental di Jakarta

Banyak kisah maupun fakta menarik dibalik pembuatan patung-patung di kota Jakarta. Seperti yang kita kenal saat ini, ada beberapa tugu atau patung yang keberadaannya terkenal di Jakarta, antara lain Patung Dirgantara, Patung Selamat datang, patung Arjuna wijaya, patung pahlawan, dan lain sebagainya.


Nah berikut ini akan kita bahas fakta dan kisah dibalik pembuatan patung-patung bersejarah yang tersebar di beberapa jalan pusat kota Jakarta.


1. Patung Arjuna Wijaya atau Patung Asta Brata


Patung Arjuna Wijaya ini dibangun pada bulan Agustus 1987. Patung ini menggambarkan sosok Arjuna dalam perang Baratayudha yang kereta perangnya ditunggangi oleh Batara Kresna.

Adegan patung karya pematung Nyoman Nuarta itu diambil dari fragmen saat mereka melawan Adipati Karna. Oleh orang-orang jakarta, patung ini biasa dikenal dengan nama Patung kuda setan, atau juga Patung delman.

Kereta pada patung tersebut ditarik oleh delapan kuda, yang melambangkan delapan ajaran kehidupan yang diidolakan oleh Presiden Soeharto.

Asta Brata itu meliputi falsafah hidup yang mengajarkan kita harus mencontoh bumi, matahari, api, bintang, samudera, angin, hujan dan bulan. Di bagian patung itu menempel prasasti yang bertuliskan "Kuhantarkan kau melanjutkan perjuangan dengan pembangunan yang tidak mengenal akhir".

Proses pembuatan patung ini pernah mengalami keterbatasan dana, sehingga patung itu dibuat dari bahan poliester resin yang punya kelemahan mudah rapuh jika terkena sinar ultraviolet.

Sampai dengan tahun 2003, patung Arjuna Wijaya mengalami kerusakan, sehingga akhirnya patung ini direnovasi kembali dengan menelan biaya 4 miliar. Bahan material patung itu sendiri diganti dengan bahan tembaga.


2. Patung Dirgantara


Patung dirgantara biasa dikenal dengan nama plesetannya, yakni patung pancoran, patung "hey kamu", bahkan ada yang menyebutnya sebagai patung superman.

Patung yang berada di daerah pancoran ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964 - 1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta atas permintaan Bung Karno. Tujuan dari pembuatan patung ini adalah untuk menampilkan keperkasaan dan kekuatan angkatan udara bangsa Indonesia.

Patung Dirgantara ini menghadap ke Utara dengan tangannya mengacung ke bekas Bandar Udara Internasional Kemayoran. Lokasinya dekat dengan Markas Besar Angkatan Udara di Selatannya dan Bandar Udara Domestik Halim Perdana Kusuma di Tenggaranya. Karena bertempat di kawasan Pancoran makanya patung ini sering dibilang patung Pancoran.

Ada kisah yang beredar, bahwa Indonesia pernah mengalami kekurangan anggaran untuk biaya pembuatan patung ini, sehingga Presiden Soekarno harus rela menjual mobilnya untuk membiayai kekurangannya.


3. Patung Selamat Datang


Patung Selamat Datang dibangun untuk menyambut para atlet peserta Asian Games IV tahun 1962. Patung ini berada di depan Hotel Indonesia dengan posisi berdiri persis di atas air mancur bundaran Hotel Indonesia.

Patung perunggu ini dibuat oleh Edhi Sunarso, dan dirancang bersama dengan Henk Ngantung mantan Gubernur Jakarta. Sesuai dengan namanya, patung ini dibangun untuk memberikan salam selamat datang bagi para pendatang.

Posisi patung yang menghadap ke arah kota (utara) juga menunjukan daerah kota berperan sebagai pusat bisnis, perdagangan, dan pendatang dari pelabuhan saat itu.

Disekitar patung ini terdapat lima formasi Air Mancur yang dijadikan simbol ideologi Negara Republik Indonesia, Pancasila.

Simbol ini juga berperan untuk memberikan salam kepada kota Jakarta sebagai kota Ibukota Negara dan Kota Metropolitan dengan formasi ucapan Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Petang, Selamat Malam dan Selamat Hari Minggu. Orang-orang jakarta biasa menyebut patung selamat datang sebagai patung jali-jali atau patung HI.


4. Patung Pemuda Membangun


Pizza Man atau Patung Laki-laki bawa obor, begitulah orang-orang menamainya. Patung ini dibangun sebagai penghargaan untuk pemuda dan pemudi dalam keikut sertaannya pada pembangunan Indonesia.

Patung ini dilambangkan dengan seorang pemuda gagah dan kuat yang sedang memegang piring berisi api yang tak pernah padam sebagai perwujudan semangat pembangunan yang tak pernah mati.

Saat pembangunannya, patung ini direncanakan selesai pada Hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1971, namun karena pembangunan belum selesai akhirnya diresmikan pada bulan Maret 1972.

Patung ini terletak di Bunderan Senayan, tempat strategis sebagai titik temu antara Senayan sebagai pintu gerbang Jakarta Pusat dengan area Jakarta Selatan.


5. Patung Pahlawan


Patung ini dibuat sebagai bentuk penghargaan kepada para pejuang kemerdekaan Indonesia, yang dilambangkan dengan seorang laki-laki yang memakai caping (topi pak tani) menyandang senapan dan sedang meminta restu pada wanita yang ada disisinya untuk maju ke medan perang.

Disebabkan karena topi capingnya itulah, maka orang-orang biasa menyebut patung ini dengan sebutan patung pak tani.

Ide patung ini dimulai saat presiden Soekarno melakukan perjalanan ke kota Moskow dan beliau terkesan dengan patung-patung yang ada disana. Saat itu presiden Russia mengenalkan presiden Soekarno ke salah satu seniman yang bernama Matvei Manizer dan anaknya Otto Manizer.

Mereka pun kemudian diundang ke Indonesia untuk membuat patung yang melambangkan semangat kemerdekaan. Disinilah kedua pematung itu berkelana dan menemukan legenda Jawa Barat yang berkisah tentang seorang Ibu yang mengiringi anaknya untuk pergi berperang.

Sang Ibu memberikan semangat supaya sang anak memenangkan setiap peperangan dan selalu ingat dengan orang tua dan negaranya.

Patung perunggu ini dibuat di Rusia dan dibawa ke Indonesia dengan menggunakan kapal laut, dan kemudian diresmikan pada tahun 1963 oleh Presiden Soekarno. Pada papan di monumennya tertulis: "Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa yang besar".


Sumber:
rumahgue.com

Tuesday, 6 November 2012

Biaya Hidup di Jakarta Lebih Mahal Dibanding Amerika?

Berikut ini adalah keluh kesah Ria Hardianti, seorang yang bekerja di Amerika dan terkaget-kaget ketika mudik ke Jakarta. Penemuannya soal mahalnya hidup di negeri sendiri memutuskan untuk menetap di Amerika dan hanya sesekali pulang menengok kota kelahirannya.

Terdengar tidak nasionalis? Atau justru jadi bahan introspeksi? Beginilah isi tulisan Ria:

wikipedia



Tinggal di Jakarta
Oleh: Ria Hardianti - Amerika Serikat

Saya terkadang suka takjub sendiri jika sedang mengunjungi Jakarta, Indonesia? Mengapa? Karena biaya hidup di Jakarta sangat mahal. Malah lebih mahal jika dibandingkan biaya hidup di Kansas.

Sebagai contoh, jika makan di salah satu mall terkenal di Jakarta, untuk empat orang, bisa menguras kantung sekitar Rp.400,000. Sedangkan, jika makan di salah satu mall terkenal di Kansas, biayanya tidak lebih dari Rp. 250,000.

Untuk transportasi, jika naik taxi di Jakarta dari Sudirman menuju Bintaro, argo akan menunjuk kepada harga Rp.220,000. Sedangkan jika naik taxi dari Jamaica, Queens ke China Town, argo taxi di New York akan menunjuk ke pada harga Rp.170,000. Belum lagi, harga sebuah baju merek Mango, di Jakarta bisa dihargai Rp.500,000. Sementara di JC Penney, baju mango hanya dibandrol seharga Rp.200,000.

Tingginya biaya hidup di Jakarta membuat saya tidak habis berpikir, bagaimana caranya penduduk di Jakarta bisa survive? Walaupun dengan gaji 5 juta pun, belum tentu bisa hidup mapan. Unbelievable. Darimana ya bisa bertahan hidup seperti itu?

Saya juga jadi teringat sindirian salah seorang kerabat saya, “ Kamu itu bule kere . Gayamu saja yang sudah jadi warga Negara Amerika, paspor biru, dan gaji dollar, tapi tiap pulang ke Indonesia tidak pernah bisa memanjakan keluargamu atau membantu ekonomi saudara- saudaramu."

===========================================

Saya jadi teringat pada sebuah blog milik Jimmy AK sekitar 2 tahun lalu saat membandingkan ongkos hidup di Jakarta dengan Sunnyvale, California. Inilah hasil penelitian Jimmy:
 Salah satu sudut di Sunnyvale


1. Transportasi

Public transportation di Jakarta jelek sekali, busway masih sangat sedikit. Taxi sangat bagus tapi relatif lebih mahal. Macet dimana-mana, jarak 10km bisa membutuhkan waktu 1-2 jam akibatnya biaya untuk bensin yang akan naik. Kenyamanan dan keamanan masih sangat rendah. Akibatnya, orang Jakarta berusaha sebisa mungkin menggunakan mobil atau motor. Padahal biaya mobil sangat mahal, harga Honda Jazz sekitar 190jutaan. Parkir 20ribu/hari.

Public transportation di Sunnyvale juga tidak bagus, sangat sedikit dan jarang. Kebanyakan orang menggunakan mobil pribadi dan hampir tidak ada yang pakai motor. Harga mobil disana jauh lebih murah, Honda Jazz (Fit) hanya 130juta. Enaknya di Sunnyvale adalah perusahaan punya Shuttle Bus sendiri-sendiri, jadi karyawan yang tidak mau bawa mobil bisa menggunakan bis ini secara gratis. Kemacetan hampir tidak ada, jadi walaupun harga bensin hampir 2x nya harga bensin di Jakarta, total pengeluaran sehari-hari tidaklah sampai 2xnya (ingat Jakarta macet). Parkir gratis.

Jadi kalau dihitung-hitung dengan berbagai komponen seperti pengeluaran untuk bensin, cicilan mobil dll, biaya transportasi di Jakarta lebih mahal dari Sunnyvale, California.

2. Makan dan Minum

Sekilas harga makanan lebih mahal di Sunnyvale. Tapi kalau diperhatikan di kafetaria kantor Yahoo! harga makanan tidak terlalu jauh beda dengan harga makanan di Jakarta (setidaknya di kantor Yahoo! jakarta). Enaknya di sunnyvale, semua minuman gratis! kopi, teh, susu, jus, coca cola, pepsi, semuanya gratis. Bahkan ada barista yang siap membuatkan minuman ala starbucks dengan gratis.

Jadi kalau kita makan sandwidth + minum latte nya starbucks di Jakarta akan lebih mahal dari di Sunnyvale dengan menu yang sama, karena lattenya gratis :(

Lagi-lagi ternyata Amerika tidak semahal yang selama ini aku duga.

3. Akomodasi

Harga hotel sama dengan hotel di Jakarta. Harga apartemen di sekitaran Sunnyvale 5 jutaan/bulan yang artinya sama juga dengan harga apartemen di Jakarta. Harga rumah di sekitaran Sunnyvale sangat mahal, diatas 2 milyar semua. Jadi jangan beli rumah disana, beli di Jakarta aja :)

Untuk akomodasi Sunnyvale relatif lebih mahal, karena harus apartemen dan nggak ada kost yang harganya 1 jutaan :)

4. Gaya

Boooooo, ini yang paling parah di Jakarta. Semua orang pengen tampil gaya. Biaya untuk gaya gila-gilaan. Bayangkan banyaknya orang Jakarta yang pakai Blackberry padahal coba hitung harga blackberry itu berapa persen dari gaji bulanan kebanyakan mereka? 10%, 20%, 50% atau jangan-jangan 100%?

Di Sunnyvale hampir semua orang pakai iphone, harga iphone 4 hanya 2 juta karena kontrak data plan. Dibandingkan Jakarta, harga iphone di Sunnyvale jauh lebih murah. Di Sunnyvale hampir tidak ada orang yang gaya, tidak ada mall, tidak ada tempat belanja-belanja, kalau sore hari orang-orang nongkrong di cafetaria kantor minum-minum kopi, gratis semua. Di Jakarta, kita nongkrong minum kopi harus bayar 20ribuan. Cewek-cewek tukar-tukar sepatu mulu di Jakarta. Di Sunnyvale nggak ada yang gaya, kostum semuanya sama, celana jeans bawahnya baju kaos atasnya. Cowok cewek, developer, sales, sampai ke VP semua kostumnya gitu.

Biaya untuk GAYA di Jakarta gila-gilaan di bandingkan Sunnyvale. Padahal masalah gaji, di Sunnyvale 4-5x lebih tinggi dari gaji di Jakarta.

Tragis, dengan biaya hidup Jakarta yang relatif lebih tinggi, mereka mendapat gaji 4-5x lebih besar dari kita yang di Jakarta.





Nah, bagaimana menurut kamu?






Sumber:
e-mail

Monday, 24 September 2012

Hanya Satu Gubernur Jakarta yang Betawi Tulen

Siapakah pemilik kota Jakarta? Ibukota negara Indonesia ini merupakan hunian masyarakat heterogen. Dengan penduduk dari berbagai daerah yang memadati Jakarta, maka sejarah mencatat gubernurnya pun ternyata 99% bukan orang Betawi.

Hanya Soerjadi Sodirdja tercatat kelahiran Batavia tahun 1938. Ya, masih ditulis dengan nama demikian, sebelum kota ini berubah menjadi "Jakarta" sejak penjajahan Jepang datang.


 zona-kita.com


Bagaimana kisah Jakarta di bawah kepemimpinan para gubernurnya? Apakah terjadi keberhasilan walau bukan orang Betawi tulen? Berikut daftarnya.


1. Suwiryo - masa jabatan 1945 - 1947 dan 1950 - 1951
Kelahiran Wonogiri, Jawa Tengah  - 17 Februari 1903.
Setelah Indonesia merdeka, Bung Karno menunjuknya sebagai Walikota Jakarta per tanggal 23 September 1945.

 
2. Daan Jahja - masa jabatan 1948 - 1959
Kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat, 5 Januari 1925
Pejuang tulen. Saat muda, ia yang pertama kali berpidato dengan Bahasa Indonesia di Volksraad, Dewan Rakyat bentukan Pemerintah Hindia Belanda.

 
3. Syamsurijal - masa jabatan 1951 - 1953
Kelahiran Solo (tanpa data tahun).
Keberhasilan: mendata ulang kepemilikan tanah dan mendata gelandangan. Hal lain yang tak kalah penting dari kebijakan Syamsurizal adalah membangun pembangkit listrik di kawasan Ancol.

 
4. Sudiro - masa jabatan 1953 - 1960
Kelahiran Yogyakarta, 24 April 1911
Prestasi: Pencetus terbentuknya  Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Kampung (RK) yang kemudian menjadi Rukun Warga (RW)

 
5. Dr. Soemarno Sosroatmodjo - masa jabatan 1960 - 1964 dan 1965 - 1966
Kelahiran Jember, Jawa Timur, 24 April 1911
Banyak monumen dibangun pada masa kepemimpinannya, seperti Monas, Patung Selamat Datang, dan lainnya. Sayang, kondisi politik Indonesia sedang suram saat ia menjabat.

 
6. Henk Ngantung - masa jabatan 1964 - 1965
Kelahiran Manado berdarah Tionghoa, 1 Maret 1921
Seorang seniman yang bergaul akrab dengan Chairil Anwar dan Asrul Sani. Ditunjuk menjadi gubernur DKI oleh Presiden Soekarno dengan tujuan menjadikan Jakarta sebagai kota budaya. Rancangan Tugu Selamat Datang dan sketsa lambang DKI Jakarta hasil kerjanya.


 merdeka.com

Ironis, kesehatannya memburuk sehingga hanya setahun menjabat. Harus jual rumah dan akhirnya dituduh sebagai anggota PKI  oleh pemerintahan Orde Baru.

 
7. Ali Sadikin - masa jabatan 1966 - 1977
Kelahiran Sumedang, Jawa Barat, 7 Juli 1927
Inilah Gubernur DKI paling melegenda. Karyanya selama menjabat sangat banyak. Mulai dari Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ismail Marzuki, dan banyak lagi.

bpn16.wordpress.com


Yang kontroversial: melegalkan kawasan perjudian dan pelacuran. Tujuannya memungut pajak untuk kas Jakarta. Kabarnya, memang saat kepemimpinannya Jakarta bertumbuh sangat pesat.

 
8. Tjokropanolo - masa jabatan 1977 - 1982
Kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 21 Mei 1924
Pernah menjadi pengawal pribadi Jenderal Soedirman. Sebagai penerus Ali Sadikin, kerjanya cukup bagus. Ia sering  mengunjungi berbagai pabrik untuk mengecek kesejahteraan buruh dan mendapatkan gagasan langsung tentang upah mereka.


 
9. R. Soeprapto - masa jabatan 1982 - 1987
Kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 12 Agustus 1924
Peristiwa memilukan yang terjadi di masa jabatannya adalah "Peristiwa Tanjung Priok" tahun 1984. Banyak kabar simpang-siur soal jumlah korban. Laporan resmi hanya menyebut sekitar 24 orang, sementara isu yang merebak hingga ratusan.
 
10. Wiyogo Atmomdarminto - masa jabatan 1987 - 1992
Kelahiran Yogyakarta, 22 November 1922
Pencetus slogan Jakarta "BMW" - Bersih, Manusiawi, berWibawa

 
11. Soerjadi Sodirdja - masa jabatan 1992 - 1997
Kelahiran Batavia, 11 Oktober 1938
Inilah satu-satunya putra Betawi tulen yang jadi Gubernur di Jakarta. Program kerjanya dimulai dengan proyek rumah susun dan daerah resapan air. Sayang, ia memimpin saat politik sedang panas sehingga banyak peristiwa berdarah yang lebih mengemuka. Kasus 27 Juli 1996 terjadi saat ia menjabat.

 
12. Sutiyoso - masa jabatan 1997 - 2007
Kelahiran Semarang, 6 Desember 1944
Peluncur sistem angkutan massal bus Transjakarta, atau lazim disebut busway.

 
13. Fauzi Bowo - masa jabatan 2007 - 2012
Kelahiran Jakarta, 10 April 1948. Ayahnya Djohari Bowo asal Yogyakarta dan ibu Nuraini binti Abdul Manaf asal Jakarta.

Menarik, setamat SMA, ia mengambil studi Arsitektur bidang Perencanaan Kota dan Wilayah dari Technische Universität Braunschweig Jerman. Lalu berlanjut mengambil gelar  Doktor-Ingenieur dari Technische Universität Kaiserslautern. Tak heran sangat fasih berbahasa Jerman.

Ia juga sempat mengajar di Fakultas Teknik UI. Dengan latar belakang di bidang arsitektur, Fauzi Bowo punya bekal teknis merancang kota Jakarta. Soal hasil kiprahnya, masyarakat yang layak menilai.

 
davinanews.com


 
14. Joko Widodo - masa jabatan 2012 - .....
Kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961
Lebih populer dengan panggilan Jokowi. Ada yang menyebut Jokowi sebagai "reinkarnasi" Gubernur Syamsurijal karena sama-sama berasal dari Solo. Karenanya, keberhasilan Syamsurijal juga diharapkan melekat pada Jokowi.

Tantangan besar menantinya setelah dinyatakan menjadi Gubernur mengungguli Fauzi Bowo. Bagaimana Jakarta esok hari?