Monday, 30 September 2013

Siswa SMA Bunuh Kepala Sekolah di Ruang Guru Karena Menyita Ponselnya

type='html'>
Siswa SMA Bunuh Kepala Sekolah di Ruang Guru Karena Menyita Ponselnya - Penegakan disiplin memang harus ditegakkan di sekolah. Namun apabila penegakan disiplin tersebut amat kaku penerapannya maka bisa berakibat fatal. Hal inilah yang terjadi di China pada pertengahan bulan September 2013 ini.

Seorang siswa SMA di Fuzhou, tega membunuh kepala sekolahnya sendiri dengan sadis di sekolah hanya gara-gara sang kepala sekolah menyita dan merampas ponselnya serta berniat mengadukan masalah pelanggaran disiplin tersebut kepada orang tuanya.

Kejadian mengenaskan ini bermula ketika sang siswa, yang tidak disebutkan namanya, sedang asyik memainkan ponselnya pada jam istirahat. Sang kepala sekolah melihatnya dan merampas serta menyita ponselnya.

Siswa yang marah ini, menurut saksi mata, sekitar pukul 11.26 waktu setempat memasuki ruang guru dengan membawa pisau dan mengamuk disana. Ia menikam kepala sekolah yang telah mengambil ponselnya dengan tusukan bertubi-tubi dan membabi buta sehingga nyawa sang kepala sekolah langsung melayang.

Kontan saja hal ini membuat seisi sekolah panik dan histeris. Dan siswa yang mengamuk tersebut berhasil diamankan oleh beberapa orang petugas keamanan sekolah. Foto-foto "kekacauan" di sekolah ini termasuk foto jenazah kepala sekolah yang babak belur dengan cepat menyebar di seantero China, Taiwan, Hongkong, Jepang dan memicu banyak komentar, cacian dan keprihatinan di forum-forum internet. (demi kesopanan foto sang kepsek disensor disini)

Sistem pendidikan di China amat ketat dengan kurikulum yang padat. Walau berhasil mencerdaskan generasi mudanya dengan bukti pesatnya pertumbuhan kelas menengah dan pertumbuhan ekonomi yang stabil nyaris 2 digit setiap tahunnya, tetap saja sistem tersebut banyak dikritik karena membuat banyak siswa stres dan tertekan. | memobee.com

Saturday, 17 November 2012

Inikah Cara Paling Keren Untuk Berangkat Ke Sekolah ???

Mungkin dulu selagi kita kecil dan masih bersekolah, biasanya kita menggunakan angkutan umum, sepeda atau berjalan kaki untuk mencapai sekolah. Sebagian anak lebih beruntung karena mendapat fasilitas antar jemput ke sekolah.
berbeda dengan anak-anak dari Kolombia ini. Mereka tingga di desa terpencil dan berada di atas bukit. Untuk mencapai ke sekolah anak-anak ini terpaksa menaiki flying fox (zipline) dengan panjang sekitar 400 meter dan kecepatan mencapai 60 km/jam, tanpa alat keamanan yang sesuai. Anak-anak yang masih terhitung sangat kecil ini menaikin flying fox untuk menyebrangi lembah. Tak jarang anak-anak kecil ini masih harus menaiki flying fox sembari menggendong sang adik dan membawa tas sekolah.

pertanyaannya adalah, bagaimana cara mereka pulang sekolah??